Rabu, 13 Februari 2013

MALAM KERAMAT



Oleh: Rai Yuk

Langit sore mulai merayap. Udara dingin mulai merasuk ke dalam tulang lewat pori-pori kulit. Terlebih bagi kulit yang masih basah dengan keringat. Sejuk dan dingin seolah menjadi dua istilah yang sulit dipisahkan maknanya dan rasanya.
Sang Surya telah menuju peraduannya. Ia nampaknya sudah lelah mengelilingi angkasa jumantara seharian ini. Tugasnya sepenuh malam nanti akan digantikan oleh Sang Dewi Malam. Itulah sudah kodrat Ilahi dan kekuasaan Allah Ta’ala Yang Maha Esa atas segalanya.
            Tidak hanya itu pertanda siang berganti malam. Suara tonggeret1 semakin menjerit-jerit di pohon sirsak dekat Ruang Guru sekolah ini. Hewan kecil bersuara nyaring itu seolah tidak ingin kalah oleh hewan lainnya. Ya, si kecil mungil ini tentu tidak ingin kalah oleh kelepak burung-burung malam seperti kelelawar yang sudah mulai terbang memenuhi luasnya angkasa petang. Kelelawar memang sering menjadi suatu pertanda malam akan segera menjelang. Bahkan, menurut cerita orang zaman dulu, kelelawar suka dijadikan pertanda dimulainya buka puasa di Bulan Ramadhan. Artinya kelelawar dipakai sebagai tanda sudah datangnya waktu magrib. Tentu saja di zaman sekarang ini sudah tidak zamannya. Terlalu ketinggalan zaman rasanya jika kita masih melakukan perhitungan waktu dengan cara itu padahal orang lain sudah bisa buat pesawat ruang angkasa.
            Seorang guru muda, Pak Budi, begitu ia akrab dipanggil masih duduk kelelahan di sudut lapang basket sekolah tempatnya mengajar ini. Di lapangan yang dimultifungsikan juga sebagai lapangan futsal ini hampir setiap hari Kamis dan Sabtu sore Ia dan kawan-kawannya sesama guru bermain futsal. Adakalanya mereka tanding dengan klub futsal guru-guru dari sekolah lain. Namun yang paling sering adalah pertandingan latihan saja antar guru dari sekolah tersebut.
            Sambil istirahat ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Teman-temannya sudah tak heran dengan kelakuannya itu, ‘sudah biasa kalau Pak Budi berfikir begitu’ katanya. Di antara pada staf pengajar disana memang Pak Budi ini dikenal sebagai guru muda yang pemikir atau mungkin sering juga kelihatan melamun. Tak heran ia dijuluki sebagai ‘Pak Prof’ oleh teman-teman seprofesinya itu. Apalagi dia guru Fisika yang biasanya terkenal galaknya minta ampun.
Namun demikian, lain halnya dengan Pak Budi yang asal Sumedang ini. Ia tidak galak seperti halnya banyak guru fisika yang menjadi tersohor karena sifatnya yang gampang marah. Dia justru sangat ramah, orangnya murah senyum. Tak heran, walaupun ia baru mengajar di sekolah ini satu tahun lalu, survey yang dilakukan oleh Mading Sekolah menunjukkan bahwa mata pelajaran Fisika adalah mata pelajaran yang paling disukai oleh siswa. Bukan itu saja, Pak Budi pun dinobatkan sebagai Guru Terfavorit versi Mading Sekolah tersebut.
“Pak Budi, sampeyan ini mikirin apa toh? Istri belum punya, anak yo apalagi. Kalau aku iki lah pantas aja melamun, takut beras di rumah abis, anakku tidak bisa jajan, dapur gak bisa ngebul, istriku tidak bisa makan. Terlebih untuk guru honorer kayak kita ini, kalau tidak kuat mental, wah berabe. Tapi sampeyan iki kan masih bujang toh, belum banyak yang musti difikiran toh”, tidak nyaman melihat temannya melamun, Pak Trisno pria Tegal yang guru PKn itu menegur dengan Bahasa Indonesia-nya yang masih menunjukkan medoknya Bahasa Jawa.
Yang ditegur hanya senyum. Ia nampaknya masih menyusun kata-kata yang akan digunakannya untuk menjawab berondongan pertanyaan dari Pak Trisno. Belum juga ia merampungkan rangkaian katanya, Pak Man menyela “Eh Pak Tris, jangan salah, status bujangan bukannya tidak luput dari masalah. Jadi bujangan tak semudah yang dibilang Koes Plus, Pak Tris. Kayak tidak pernah mengalami saja, bagaimana sulitnya menahan ‘sesuatu’ kalau masih bujang, he he. Mengertilah sedikit”.
Disela begitu Pak Trisno hanya tertawa lantas berkata, “Oh iya yah, aku lupa Pak Man. Kok aku bisa lupa, padahal pengalamanku sendiri membuktikan bahwa aku dahulu adalah bujangan yang bingung degan status bujangnya, ha ha ha. Jadi bujangan itu tidak enak, opo-opo sendiri”.
Yang digoda masih belum bersuara. Ia hanya tersenyum-senyum saja memperhatikan tingkah mereka berdua. Ketika ia masih asyik memperhatikan dua rekannya itu tiba-tiba Pak Banu juga ikut nimbrung, “Jadi orang mana calonnya itu Pak Budi?”. Ia belum menjawab.
“Iya, kapan atuh akadnya?”, timpal Maman, si pegawai TU, menimpali. Sementara yang dicecar pertanyaan masih diam. Entah ia tidak menemukan jawaban, entah tidak ingin meladeni obrolan konyol itu atau bagaimana. Ia hanya menyungging senyum.
“Maaf Bapak-bapak yang terhormat, kita ini sedang membicarakan apa yah?” tanya Budi dengan lugu dan terkesan lucu dengan wajahnya yang melongo. Karuan saja hal itu membuat semua yang ada tertawa. Ia memang pandai berkelit dalam menghadapi pertanyaan semacam itu. Dan ia berhasil. Tak ada satupun dari yang hadir menindak lanjuti pertanyaan konyol mereka.
Kadang ia heran, mengapa orang selalu berbicara pernikahan. Baginya apalagi, ia selalu menjadi incaran celoteh dan godaan rekan-rekan kerjanya itu. Umurnya baru akan menginjak dua puluh dua tahun bulan Oktober mendatang. Lagi pula masih banyak makna hidup yang belum terungkap, lirihnya dalam hati.
Sebenarnya bukan hal itu yang membuat ia banyak melamun dan berfikir akhir-akhir ini. Memang tidak salah sama sekali jika dihubungkan dengan masalah jodoh. Namun juga tidak bisa dibenarkan 100% bahwa lamunannya dikarenakan memikirkan ingin segera menikah. Itu salah!
Fikirannya melayang ke rumah pamannya, tempat dimana ia berteduh di kota ini. Ya, setahun yang lalu ia pindah dari tempat kelahirannya, mengikuti pamannya yang kerja di Dinas Pendidikan kota ini. Dengan bantuan pamannya itulah ia bisa melamar ke sebuah sekolah sebagai seorang guru. Sekolah dimana ia duduk di lapang basketnya itulah sekolah yang dimaksud.
Fikirannya kembali menerawang ke rumah pamannya beberapa minggu yang lalu. Kejadian itu sangat menggetarkan hatinya. Bahkan ia hanyut oleh rayuan dan bujukan setan yang membuatnya menjadi keras kepala dan menjadi seorang pembantah pamannya untuk pertama kalinya.
Ini bermula ketika di sebuah hari libur seorang teman pamannya di kantor bersilaturahmi ke rumah Pak Yusuf, pamannya. Mumpung libur katanya. Bapak itu juga tidak sendiri. Ia ditemani oleh isteri dan anak perempuannya. Namun tidak seperti kedatangan tamu yang  biasanya, kali itu Budi menaruh curiga. Apalagi ketika Pak Jumhur dan keluarga itu membawa oleh-oleh yang tidak kentara banyaknya.
Prasangka itu lebih menggelora ketika anak perempuan Pak Jumhur itu seringkali mencuri pandang ke arah Budi. Walaupun berkerudung, gadis itu tidak bisa menjaga matanya. Ia memang tidak bisa dikatakan cantik, badannya juga agak gemuk. Tidak pula ia bisa dikatakan jelek karena buat Budi di mata Allah manusia bukan dilihat dari cantik atau tampannya melainkan dari keimanan dan ketakwaan kepada-Nya. Tetapi, baru saja ketemu ada satu hal yang sangat ia tidak suka dari perempuan muda itu yakni ‘matanya yang tidak bisa dijaga, jelalatan!’.
 Singkat cerita Pak Jumhur sudah mengutarakan maksud dan tujuannya yang sebenarnya. Hal itu segera dipahami oleh pamannya. Beliau menoleh ke arah Budi dan membuat jantungnya mendegup kencang. Ia tahu akan sangat sulit membuat keputusan. Ia tahu, Pak Jumhur adalah atasan pamannya di kantor. Itu artinya, martabat dan kedudukan pamannya akan dipertaruhkan dalam perjodohan ini. Ini pula artinya, pamannya akan sangat mengharapkan dia menerima lamaran Pak Jumhur. Sementara dalam hatinya tidak ada kecocokan sedikitpun dengan gadisnya Pak Jumhur itu.
***
“Bagaimana Bud apakah kau sudah bisa menjawabnya sekarang? Paman tahu ini berat buat kamu karena kamu belum PNS. Kamu mungkin memikirkan masa depan yakni bagaimana kamu bisa menghidupi keluarga kamu nanti. Tapi kamu jangan khawatir Bud, Pak Jumhur itu adalah seorang Kepala Dinas. Tidak mungkin kamu akan ditelantarkan jika kau menikahi anak perempuan semata wayangnya itu. Bahkan mungkin kamu akan diberikan pekerjaan yang lebih layak daripada pekerjaanmu sekarang”, bujuk pamannya dengan panjang lebar di satu waktu senggang setelah keduanya selesai berjamaah Isya di mesjid. Sementara Budi belum menjawab.
“Ini sudah hari ketiga yang kau janjikan setelah kedatangan mereka ke rumah ahad lalu, Bud. Kau mungkin sudah menyelesaikan istikharahmu selama tiga hari. Selain itu paman mohonkan padamu, jikapun kau tidak suka, lakukanlah ini demi paman. Beliau atasan paman di kantor. Tentu kau mengerti maksud paman”, tambahnya semakin panjang lebar.
Budi mengangkat kepalanya yang dari tadi tertunduk. Ia masih menyusun kata-kata yang baik untuk ia utarakan pada pamannya itu. Ia tentu tidak ingin menyakiti hati orang tuanya itu. Ya, selain ayah dan ibu kandungnya telah mempercayakan masa depannya kepada pamannya itu, ia pun memang telah banyak menerima jasa pamannya. Dia bisa kuliah sampai S.Pd tak lain karena bantuan pamannya. Begitupun ia bisa kerja di sekolah karena bantuan pamannya pula. Jadilah ia sudah menganggap pamannya sebagai orang tuanya sendiri.
“Paman. Sebelumnya saya berterima kasih karena paman selalu memikirkan yang terbaik untuk saya. Tentu saja hal itu tak lain dan tak bukan karena paman sangat menyayangi saya seperti anak paman sendiri. Namun demikian, paman, setelah istikharahku beberapa hari ternyata belum menampakkan hasil. Aku belum mendapat jawaban yang bisa memuaskan semua pihak. Maafkan aku paman”, jawabnya dengan bijak walaupun dalam malu dan segan menyatakannya.
Pamannya memaklumi itu. Ia percaya saja dengan yang dikatakan keponakannya itu bahwa permasalahannya hanya berujung di hasil istikharahnya. Beliau tidak tahu kalau sebenarnya ada permasalahan yang lebih besar dari itu semua.
Sebenarnya, tanpa pamannya ketahui, ia tengah memendam kekaguman pada sepupunya, anak pamannya itu. Begitupun sebaliknya, Assyifa Rahmatillah Yusuf anak pamannya itu pula mengaguminya. Mereka saling mengagumi walaupun di antara keduanya tidak pernah ada yang saling mengungkapkannya. Orang pun tidak memandang curiga jika mereka sering belajar berdua atau jalan-jalan berdua karena memang mereka  bersaudara. Pamannya pun sengaja membawa Budi dari kampungnya salah satunya untuk menemani Syifa setelah bibinya meninggal setahun yang lalu. Kasihan katanya Syifa tidak ada teman karena memang ia anak tunggal.
Kekaguman itu muncul ketika Syifa sering meminta sepupunya itu membantunya mengerjakan pe-er Fisika. Gadis kelas tiga SMA itu kagum dengan kecerdasan, kesabaran, dan keramahan Budi. Ia begitu sabar mengajarkan berbagai rumus yang sangat sulit ia mengerti sekalipun. Lagipula ia begitu tampan untuk ukurannya.
Begitu pula bagi Budi, Syifa adalah gadis yang sangat mengesankan. Ia ramah, cantik, murah senyum, lincah, pintar memasak dan taat beribadah pula. Apalagi sejak SMP, gadis itu mulai berkerudung lebar seperti almarhumah ibunya.
***
            Sejak malam itu ia memutuskan untuk memohon ijin pamannya tinggal di asrama sekolah untuk beberapa minggu. Katanya, ia mendapat tugas dari kepala sekolah sebagai pembimbing anak-anak yang tinggal di asrama sekolah. Pak Latief yang guru PAI tidak bisa melakukan tugasnya karena sakit keras. Selain itu, katanya ia ingin lebih memantapkan istikharahnya di tempat yang lebih sunyi seperti sekolah. Alasan itu memang benar, tidak dibuat-buat. Walaupun begitu ada satu lagi alasan yang tidak diungkapkannya bahwa sebenarnya ia ingin melepaskan harapannya pada Syifa yaitu dengan cara menjauh dengannya.
            Waktu beberapa minggu itu tidak terasa berlalu. Sore inilah waktu yang dijanjikan olehnya pada pamannya. Malam inilah malam yang akan menjadi malam keramat baginya. Malam inilah akan menjadi penentuan masa depannya, tetap melajang ataukan menerima lamaran itu.
            Baginya, ia masih berat untuk mengambil keputusan. Karenanya tadi siang ia berpuasa. Namun begitu, ketika teman-temannya mengajak ia bermain futsal, ia menyanggupi. Katanya sekalian ngabuburit2. Tetapi syaratnya, bermain futsal dimulai jam setengah lima agar selesai ketika menjelang magrib. Malam itu ia langsung pulang, ya pulang ke rumah pamannya setelah beberapa minggu tinggal di asrama sekolah. Lagi pula pak Latief pun sudah sembuh dan sudah bisa menjalankan aktivitasnya kembali.
            Sehabis buka puasa dan shalat magrib di rumah, terasa berat langkahnya untuk pergi ke mesjid, Pengajian Rutin Malam Jumat. Pada pengajian itu, para jamaah yang semuanya laki-laki dipimpin oleh seorang ustadz. Ayat-ayat Allah yang dibaca biasanya Surah Yaa siin, belajar tajwid, dan ceramah yang tak jarang diisi sampai tiga orang Kyai dari pesantren yang berbeda-beda.
            Walaupun badan berbalut lelah, ia paksakan kakinya untuk melangkah ke rumah Allah itu. Disana ia disambut oleh teman-temannya yang langsung menyalaminya. Mereka bertanya kemana ia selama ini jarang kelihatan. Beberapa murid mengaji di mesjid juga banyak yang bertanya katanya. Walaupun ia bukan ustadz tetapi terkadang ia menjadi tempat bertanya para santri itu. Katanya penjelasan Kang Budi selalu dapat dimengerti. Entah itu dilebih-lebihkan atau mereka berkata yang sejujurnya. Ia pun menjawab dengan sejujurnya seraya meminta maaf karena tidak memohon izin dulu pada mereka. Mereka pun mengerti.
            Bahasan dalam pengajian malam itu adalah seputar pernikahan, singkatnya ikatan suami-isteri. Sang Kyai menjelaskan bahwa suami dan isteri itu harus menyatu. Beliau mengutarakan sebuah hadis: Dari Anas ra, Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya para isteri kalian adalah belahan (jiwa) para suaminya” (HR. Al-Bazzar). Beliau pun memperkuatnya dengan hadis: Dari Ɓisyah, ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda: ‘Roh manusia satu dengan yang lainnya saling menarik. Bila sama, mereka akan bersatu; dan bila berlainan, mereka akan berjauhan’” (HR. Bukhari).
            Hadits pertama menjelaskan bahwa isteri sebenarnya adalah belahan jiwa suami. Mereka semula sebenarnya satu. Karena terikat oleh pernikahan, mereka tidak hanya menjadi satu secara lahiriah, tetapi juga menjadi satu secara batiniah. Oleh karena itu apa yang dirasakan pahit oleh suami, dirasakan pahit juga oleh isteri. Apa yang dirasakan menghina isteri, dianggap pula oleh suami sebagai hal yang menghina dirinya sendiri. Keadaan kejiwaan semacam ini merupakan fitrah yang Allah tanamkan pada pasangan suami isteri sebagai bagian dari bentuk konkret dari apa yang disebut ‘isteri belahan suami’.
            Hadits kedua menjelaskan bahwa roh manusia itu saling menarik. Jika cocok, mereka akan bersatu; jika tidak cocok, mereka berjauhan. Bila seorang isteri merasa tidak menyatu lagi dengan suaminya atau sebaliknya, suami tidak merasa menyatu lagi dengan isterinya, keadaan semacam itu akan mengancam kerukunan dan keutuhan pernikahan mereka. Oleh sebab itu, mereka berdua perlu mencari dan menyelidiki hal-hal yang menyebabkan hilangnya rasa menyetu diri yang harus ada pada mereka sebagai suami isteri. Hal ini perlu dilakukan sebab bila perasaan terasing semacam ini terus tumbuh pada perasaan suami-isteri, lama kelamaan dapat menjauhkan mereka sehingga muncul keinginan bercerai.3
            Dalam hati Budi  berkata, “Apakah hatiku akan bisa bersatu dengan hati Si Fina anaknya Pak Jumhur itu? Padahal sampai dengan saat ini pun tak sedikit pun rasa cinta menghampiriku. Apakah mungkin ia akan bisa menjadi belahan jiwaku sementara disana ada belahan jiwaku yang sesungguhnya, Syifa. Ah, astagfirullah….”.
            Pengajian Jumat itu selesai sekitar jam sembilan malam. Selepas menunaikan shalat Isya berjamaah, para jamaah pulang ke rumahnya masing-masing. Namun tidak begitu dengan Budi. Atas ajakan kawannya, Thalib, ia melanjutkan pengajian malam itu ke kampung sebelah. Ada peringat Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw katanya. Dai yang menjadi pengisi acara adalah Kyai muda dari Garut yang sedang digandrungi kawula muda akhir-akhir ini.
            Bahasan yang menjadi tema ceramahnya adalah seputar shalat. Dai yang memukau hadirin itu juga banyak membahas mengenai shalat khusuk baik shalat fardhu maupun shalat sunat. Ia juga menerangkan makna shalat bagi seorang muslim dalam mengarungi kehidupannya sehari-hari. Dimana ia juga mengatakan bahwa shalat merupakan suatu ibadah dimana kita selalu diingatkan di waktu-waktu tertentu dimana aktivitas kita seolah telah merenggut waktu kita untuk mengingat Allah. Selain itu pada waktu-waktu tertentu dalam shalat, sangat baik untuk memanjatkan doa, seperti pada sujud terakhir.
            Ceramahnya yang memukau menjadikan waktu berputar tanpa terasa. Ketika Budi melirik jarum jam tangannya, waktu menunjukkan jam dua belas  lebih enam menit. Ia pun segera bangkit dan bergabung bersama teman-temannya untuk pulang ke kampung halaman.
            Malam itu ia tak pulang ke rumah. Karena waktu telah larut malam, ia tidak tega  membangunkan Syifa ataupun pamannya. Ia memutuskan menginap di rumah Tholib, temannya. Katanya Tholib masih ingin berbicang banyak dengannya. Budi pun tanpa ragu menolaknya. Apalagi ketika Thalib bilang punya Buku Dwiloginya Habiburrahman El-Shirazy4. Jujur, Budi belum membacanya. Bukan tidak mau tetapi ia tidak punya uang untuk membelinya.
            Yang tadi berniat mengajak berbincang sudah KO duluan. Sementara Budi tadi sudah meminta izin untuk membaca Dwilogi itu. Ia tidak menemukan kesulitan walaupun harus membaca dua buah novel yang tebal-tebal itu. Sejak SD dulu ia memang sudah terbiasa membaca.
            Alur cerita yang dibawakan pengarang membuatnya melayang jauh ke negeri mesir dan kehidupan Islami yang indah. Untaian kata beraroma fiqh yang indah membuat kantuknya hilang sama sekali. Sungguh indah dua karya fenomenal ini. Bukan hanya membuat terenyuh tetapi juga menjadikan perantara menuju kebeningan hati yang salim. “Subhanallah, alhamdulillah”, desisnya sembari mengakhir novel episode kedua itu.
            Waktu menunjukkan pukul empat. Ia sempatkan shalat malam beberapa rakaat dan ditutup dengan shalat witir serta bermunajat kepada Penguasa Siang dan Malam, Allah Azzawazala. Tarhim sudah berkumandang memenuhi seluruh angkasa kota. Ia masih tertegun di depan dua novel itu. Teringat kembali olehnya bahwa keputusan atas lamaran itu harus ada pagi ini. Antara segan dan keyakinan, ia berkata lirih, “Laa haula walau quwwata ilaa billah…”.

Sukabumi, 14 Juli 2011
1.      Hewan serangga kecil, sering bersuara ketika sore hari, menempel di batang pohon.
2.     Menunggu waktu berbuka
3.     Dari buku “20 Rahasia Ikatan Kejiwaan Suami-Isteri” oleh Drs. Muhammad Thalib.
4.     Buku Ketika Cinta Bertasbih karangan Ustadz Habiburrahman El-Shirazy

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar