Sabtu, 26 September 2009

MURTAD

A. Cahyana


Orang-orang baru saja pergi meninggalkan rumah kami. Pengajian memang sudah selesai sekitar setengah jam sebelumnya. Setelah selesai jamuan makan, semua orang yang terbiasa mengikuti pengajian rutin setiapa malam minggu di rumah kami itu pulang ke rumah masing-masing.
Setiap malam minggu memang selalu diadakan pengajian di rumah orang tuaku. Ayah, yang seorang pegawai Dinas Pendidikan mempunyai sebuah grup pengajian shalawat. Rumah kami ditunjuk sebagai tempat dilaksanakan pengajian mingguan itu mengingat tempatnya yang strategis untuk bisa dijangkau oleh semua anggota pengajian.
Setiap malam minggu pengajian digelar. Kami bersyukur dengan hal itu. walaupun terkadang sedikit repot, kami berharap ridho Allah akan selalu memenuhi semua ruang rumah kami beserta para penghuninya karena hal itu. lebih jauhnya, pengajian di malam minggu itu terbukti efektif mencegah anak-anak ayah pacaran. Kakakku, Afifah, tidak pernah sekalipun ada yang berani ngapelin karena setiap malam minggu, rumah selalu ramai dengan orang yang mengikuti pengajian. Lagipula, memang kakakku tak pernah berniat pacaran, ia amat memegang ajaran Islam. Segala hal menganai pacaran ia tolak dan kritik habis-habisan bahkan secara tegas mengatakan bahwa pacaran itu HARAM. Pacaran, No Way!
Aku baru saja menutup pintu depan setelah orang terakhir yang mengikuti pengajian malam itu pulang. Dalam hati aku cukup senang karena sudah bisa menonton TV di ruang keluarga yang sebelumnya dipakai tempat pengajian. Walaupun begitu, aku tak begitu memperlihatkan ekspresi kegembiraanku itu di depan ayah. Ayah bisa menuduh yang macam-macam kalau aku sampai berani berani berteriak “YES!!!” setelah mereka pulang.
Namun baru saja aku duduk di kursi ruang keluarga dan memijit tombol POWER di remote kontrol TV, bel pintu depan berbunyi. Aku diam, pura-pura tak mendengar bel itu berdering. Aku harap ibu tak menyuruh aku untuk membukakannya. Kakak perempuanku yang sedang duduk membaca di kursi di pojok ruangan juga masih terdiam tak bergerak. Tapi naasnya, ibu menangkap gelagatku yang pura-pura tak tahu itu. Ia mulai memberi isyarat agar aku membukakan pintu depan, melihat siapa tamu yang datang malam itu.
“Ah, ibu, tanggung nih, baru saja aku bisa nonton TV. Lagi pula, ini film sedang rame-ramenya, Bu!”, tolakku sambil menunjukkan kemalasan yang luar biasa.
“Jangan membantah sama orang tua!!!”, bantah ibu dengan tegasnya.
“Ibu suruh dong Kak Afifah, perasaan aku terus yang disuruh….”, gerutuku kesal.
“Kamu kan lihat sendiri dia lagi belajar. Senin besok dia ada ujian. Kamu coba toleransi dong!”, bantah ibu lagi.
“Uuh….dasar Kak Afifah, cari perhatian tuh!”, gerutuku dalam hati sambil melangkah menuju ruang tamu. Dia memang sangat disayang sama ayah dan ibu. Aku mengerti alasannya yaitu karena dia menurut apa kata mereka, mau kuliah di keguruan. Karena ayah adalah pegawai Dinas Pendidikan, beliau ingin sekali anak-anaknya menjadi guru. Sedangkan aku sendiri malah mengambil jurusan seni rupa, sebuah jurusan yang amat dibenci oleh ayah dan ibu. Katanya seniman itu jorok lah, bohemian lah, serabutan, jarang mandi, gondrong, dan tuduhan-tuduhan lain yang seringkali aku bantah. Padahal aku sudah menjelaskan bahwa tidak semua seniman seperti itu. Aku sendiri tidak suka memelihara rambut hingga gondrong nggak karuan, aku membiasakan diri untuk hidup bersih, dan selalu taat beribadah. Tapi tetap saja mereka belum mengerti dengan apa yang aku jelaskan. Hasilnya tetap saja, mereka jauh lebih mengistimewakan dan membanggakan Kak Afifah daripada aku. Bahkan mungkin mereka tak pernah membanggakan aku. Apalagi, Kak Afifah adalah seorang aktivis organisasi Islam. Ayah sangat bangga akan hal itu. Sedangkan aku cuek saja terhadap organisasi remaja Islam. Aku lebih senang pergi ke pameran seni rupa daripada ke bazaar buku-buku Islam atau mengikuti pengajian-pengajian mahasiswa di kampusku.
Aku melangkah malas menuju ruang tamu. Bel berbunyi sekali lagi. Duh….ini orang kok nggak sabaran banget sih. Lagipula salahnya sendiri, bertamu kok malam-malam begini. Orang mah lagi mau tidur, malah bertamu. Ini kan sudah hampir jam sepuluh malam.
Kuputar anak kunci dengan malas. Lalu kuputar pula gagang kunci itu. Wajahku kupasang semasam mungkin menandakan keksalan luar biasa. Gara-gara orang yang bertamu ini, film Arnold Swartzeneger yang telah kutunggu munculnya di layar televisi selama berminggu-minggu ini, harus kutinggalkan untuk beberapa saat. Kini pintu sudah terbuka dan nampak seorang laki-laki setengah baya di depanku.
“Assalamu'alaikum, Andi. Kamu sudah besar sekarang, sudah menjadi pemuda yang gagah seperti yang paman harapkan dulu. Apa kabarmu, Nak?”
“Paman? Aku kira siapa. Aku Baik-baik saja, Paman. Bagaimana sebaliknya, apakah paman baik-baik saja?”, jawabku sambil meraih tangannya dan mencium tangan kekar, kasar, dan legam itu. Aku tak peduli dengan tangan yang kasar itu karena yang kutahu hatinya lembut selebut kapas, dan bening sebening embun.
Aku sangat sayang pada padanya. Dulu, ketika aku masih kecil dan tinggal di Sumedang, aku selalu diajaknya ke sawah, bermain bersama anaknya, Teh Tarmi. Beliau seringkali mengajariku bagaimana memancing ikan, menangkap belut, membuat layangan, membuat ukiran kayu, membuat patung dari tanah liat, menembang Sunda. Semua itu adalah pelajaran hidup yang tidak bisa diberikan ayah karena hari-harinya hanya disibukkan oleh kertas.
Semua hal yang paman ajarkan padaku itu tetap membekas di ingatanku sampai aku menginjak usia delapan belas ini. Ah…paman Warta, engkaulah paman terbaik sepanjang masa. Engkaulah yang membuka cakrawala pikiranku sehingga aku mempunyai banyak ide, melebihi orang lain. Sering pula ide itu menjadi kebanggan dosen-dosenku di kampus walaupun tak pernah sekalipun menjadikan suatu kebanggaan buat ayah dan ibu. Ah, mereka tidak mengerti.
Aku juga menjadi seseorang yang mandiri dan mempunyai cita-cita yang khas karenanya, berbeda dengan kebanyakan orang.. Walaupun beliau juga ikut bertanggung jawab dalam renggangnya hubunganku dengan kedua orang tuaku karena aku tidak mengikuti keinginan mereka untuk menjadi guru. Ayah memang tak suka aku menjadi penyair, penembang, pelukis, pematung dan hal berbau seni lainnya. Satu-satunya seni yang disukai ayah dariku adalah seni membaca Al-Quran. Memang, aku juga menyukainya. Tapi aku tak mau hanya memporsi waktuku untuk satu keterampilan saja. Aku ingin mempunyai keterampilan seni yang lainnya. Oleh karena itu, kuputuskan untuk berhenti kursus membaca Al-Quran, padahal aku adalah salah satu murid kesayangan Ustadz Ahmad, guru ngaji kami.
Segeralah kupersilakan pamanku itu masuk. Segera kupangggil ayah dan ibu.
“Ayah, ibu….lihat siapa yang datang?!”, teriakku masih kegirangan dengan kedatangan paman. Kubawa tas ransel yang ia bawa itu dan kugandeng tangannya menuju kursi tamu.
“Siapa sih, Andi? Tidak usah berteriak begitu, malu sama tetangga. Ini kan sudah malam!”, jawab ibu dari dalam.
“Makanya ibu dan ayah ke sini!”
Tak lama kemudian Ibu sudah muncul di pintu.
“Eh, Kang Warta. Aduh lawas ti lawas Akang. Kumaha damang? Sudah lama tidak bertemu, mani pangling…..” , tegur ibu sambil memberikan tangannya untuk bersalaman dengan paman. Ibu tepatnya adalah kakak ipar kepada Paman Warta karena Paman Warta adalah kakak dari ayahku.
“Alhadulillah Fatimah, akang baik-baik saja. Keluarga di kampung juga sehat semua, kecuali, eeee….. Oh Iya, memang benar sudah lama kita tidak bertemu. Sejak kalian pindah ke Surabaya ini, kalian tak pernah pulang ke Sumedang walaupun hanya untuk berlebaran bersama di sana”.
“Iya, Kang, kami sebenarnya mau. Tapi Akang kan tahu sendiri bagaimana sibuknya Ayah si Andi. Selalu saja banyak urusan kantor dan urusan dakwah Islamiyah di sini. Lagi pula perlu biaya yang tak sedikit untuk bisa pulang ke kampung. Akang juga tentu tahu bagaimana gaji pegawai negeri, hanya untuk buat makan sehari-hari saja Kang!”, sangkal ibu seolah memberi alasan
“Tapi setidaknya nasib kalian lebih baik daripada buruh tani sepertiku bukan?”.
Ibu tersipu.
“Sebentar ya, Kang. Saya panggil dulu ayahnya si Andi sambil mengambil air minum”.
“Tidak usah repot-repot, Fatimah!”
“Tidak repot kok, Kang. Hanya air putih saja. Masa akang sudah datang jauh-jauh, tidak dijamu walaupun hanya dengan segelas air putih”.
Baru saja ibu hendak pergi.
“Eeee….Fatimah, ini ada sedikit oleh-oleh dari Sumedang”, kata paman sambil menyodorkan sebuah kardus. Entah apa yang ia bawa itu, yang pasti itu adalah bukti perhatian terhadap saudara dan tatakrama orang Sunda untuk bertamu walaupun ke rumah saudaranya.
“Aduh, mengapa repot-repot bawa oleh-oleh segala atuh Kang. Terima kasih banyak atuh ya, Kang”. Paman mengangguk. Ibu segera masuk ke dalam.
Sepeninggal ibu.
“Kamu sudah kelas berapa sekarang ini, Di?”, tanya paman memulai pembicaraan sambil masih menunjukkan senyum bangga kepadaku. Mungkin dia mengagumi postur tubuhku yang tinggi, putih, dan katanya mirip ayah di waktu mudanya.
“Aku sudah kuliah, Paman. Sekarang semester dua, baru mau ke semester tiga.”, jawabku sambil membalas senyumannya.
“Oh ya?! Betapa kita sudah lama tidak bertemu ya, Nak. Oh iya, kau mengambil jurusan apa, Di?”’ tanyanya lagi.
“Saya mengambil jurusan seni rupa, Paman”, jawabku lugas.
“Lho, kenapa?”
“Kenapa bagaimana, Paman?”, tanyaku bingung.
“Maksudku, apakah ayahmu ssetuju?”, selidiknya.
“Sejak dahulu ayah memang tidak pernah setuju aku mempelajari seni, apalagi sampai berniat mendedikasikan masa depanku sebagai seorang seniman sebagaimana yang aku lakukan saat ini, Paman”, jelasku.
“Lalu?!”
“Sekarang beliau sudah sedikit mengerti”, jawabku lagi. Aku merasa semakin terdesak. Aku terpaksa berbohong. Sebenarnya, sampai saat itu ayah tak pernah setuju kalau aku mengambil jurusan itu.
“Sedikit?! Baiklah, tak menjadi apa. Mungkin lama kelaman dia akan mengerti. Tapi, mengapa akau suka seni, Nak?”, tanyanya lagi.
“Aku mengyukainya karena seni itu indah, Paman!”, jawabku seolah mengatakannya seperti seorang yang sedang mendeklamasikan puisi.
“Dari siapa kau tahu itu? Sejak kapan kau mulai bersyair seperti itu, Nak?”
“Apa Paman sudah lupa ketika dulu Paman sendiri yang mengajarkan kata-kata itu padaku?”, jawabku membela diri.
Ia termenung setelah mendengar jawabanku itu. Mungkin pikirannya sedang menerawang dan mengingat –ingat mengenai apa yang aku katakan tadi, yang betul-betul kuperoleh darinya waktu kami bersama di kampung dahulu.
Belum juga ia menyelesaikan lamunannya, ayah datang.
“Kang Warta?!”, sapanya dengan sopan dan memperlihatkan kegembiraan luar biasa atas kedatangan paman.
“Parman?!”, jawab paman setengah tersentak dari lamunannya.
Mereka berangkulan. Dua laki-laki kakak beradik yang sudah sama-sama beruban dan tidak lagi muda itu saling melepas rindu seperti ketika mereka muda dulu, mungkin. Mereka melepas kerinduan jiwa mereka setelah terpisah jarak dan tidak bertemu tak kurang dari tujuh tahun lamanya.
“Mengapa tak memberi kabar dulu kalau kau mau ke sini, Kang?”
“Supaya kedatanganku menjadi kejutan”, jawabnya sambil tersenyum.
“Ah, kau memang tak pernah berubah, Kang, selalu saja bisa bercanda. Bagaimana kabarmu juga keluarga di kampung?”, puji ayah.
“Kabarku baik, semua keluarga juga baik, ee….”
“Bagaimana?”, tanya ayah.
“I..iya, mereka semua baik”, jawabnya agak gelagapan.
“Syukurlah kalau begitu, aku cukup senang. Aku belum bisa pulang menengok kalian di kampung”.
“Aku mengerti dengan semua kesibukanmu, Man. Kamu tentu sangat repot apabila harus meningalkan pekerjaanmu, bukan?”, tanyanya. Mungkin itu sebuah pertanyaan yang runcing buat ayah, bijak namun juga pedas.
Selanjutnya obrolan panjang terjadi antara ayah dan paman. Kedua adik kakak yang sudah sama-sama berumur itu berbicara mengenai hal yang tak begitu aku mengerti. Obrolan orang tua, oh bukan, mungkin lebih tepat dibilang obrolan kakek-kakek. Mungkin juga mereka sedang bernostalgia akan pengalaman kebersamaan mereka dahulu. Ah, kalau kedua kakek ini sudah berbicara ngalor ngidul, maka anak muda sepertiku yang harus mengalah. Daripada menjadi kambing conge karena tak bisa ambil bagian dalam pembicaraan, aku lebih suka meminta izin untuk beristirahat duluan. Aku melangkah ke kamar. Mareka pun tak peduli.
Aku telah memutuskan untuk memberikan waktu paman malam ini buat ayah saja. Tapi dasar ayah, bukannya paman disuruh istirahat setelah perjalanan jauh malah diajak ngobrol sampai larut malam. Aku mengerti, mungkin mereka rindu. Tapi jangan harap besok waktu paman ayah yang miliki lagi. Besok adalah bagianku mengajak paman mengobrol sepuasnya. Aku sudah membuat rencana untuk mengajaknya berjalan-jalan ke pantai esok hari. Aku merindukan berdebat dengannya mengenai segala hal di alam terbuka seperti pantai. Aku merindukan sebuah perdebatan yang fair, yang tidak harus yang tua sebagai pemenangnya. Tidak seperti perdebatanku dengan ayah yang harus selalu dimenangkan ayah, baik soal agama, politik, bahkan kegemaranku, seni.
Mentari pagi sudah menyapa dan kami sudah berada di pinggiran pantai. Selepas shalat subuh tadi, kami langsung berangkat ke pantai atas paksaanku pada paman. Seharusnya aku tak begitu. Seharusnya aku mengerti bahwa paman sangat lelah setelah perjalanan jauh kemarin dan dilanjutkan dengan begadang bersama ayah yang entah sampai jam berapa. Tapi, ia tak menunjukkan sedikitpun kelelahan di raut wajahnya yang legam terbakar matahari setiap hari itu.
Pantai ini masih sepi. Oh bukan, tapi selalu sepi setiap waktu. Pantai ini memang tak terlalu dikenal di Surabaya ini padahal keindahannya tak kalah dengan pantai-pantai lain di sini. Hal ini yang mendasariku untuk mengajak paman kesini supaya aku bisa menimba petuah darinya tanpa banyak gangguan lalu lalang orang.
“Andi, apakah kau masih ingat dengan amanat yang paman berikan?”, tanyanya memulai pembicaraan.
“Tentu, Paman”, jawabku. Aku mulai senang karena paman sudah memulai pembicaraan. Ini akan sangat mengasyikkan, pikirku.
“Jika memang masih ingat, dapatkah kau mengatakannya?”, ujinya.
“Jagalah keluargamu dari kemunkaran dan kemusrikkan dengan melakukan apa yang dikatakan agamamu, jagalah bangsamu dari jahatnya budaya asing dengan mempelajari adat dan budayamu sendiri!”, jawabku tegas.
“Kau masih begitu ingat rupanya, tapi ada yang lupa paman katakan sebagai sambungan nasihat tadi”.
“Apa itu paman?”, tanyaku penasaran.
“Turuti perkataan orang tuamu, junjung tinggi nasihatnya seperti kau menjungjung tinggi agamamu!”, tambahnya.
“Maksud paman, Paman tak menyuruh aku mengikuti keinginan ayah untuk masuk ke keguruan, bukan?”
“Aku dengar dari ayahmu bahwa kau berhenti mempelajari Al-Quran ya?”, selidiknya.
Aku termenung. Ayah pasti mengadu yang macam-macam tentang aku pada paman semalam.
“Aku tak berhenti mempelajari Al-Quran, Paman. Aku hanya berhenti mempelajari seni membaca Al-Quran, sedangkan aku sendiri masih suka membacanya di rumah!”, jawabku aku agak gugup.
“Satu hal yang harus kau ingat selalu dalam hidupmu, Nak bahwa kau jangan membantah orang orang tuamu. Jika kau melakukannya maka itu akan menjadi kenyerian orang tuamu dan kemurkaan Allah! Kau mengerti?!”, jelasnya.
“Iya, Paman!”, jawabku.
“Bagus! Kau memang keponakanku yang paling pintar”. Lalu ia termenung menatap laut luas. Sedangkan mentari kian terang dan panas. Kota Surabaya memang panas setiap hari, apalagi di musim kemarau begini. Tetapi, bagiku kini Surabaya telah mejadi salah satu kota favoritku setelah Sumedang, kota kelahiranku yang banyak disebut Kota Leutik Camperenik artinya kota yang kecil tetapi bersih dan asri. Walaupun ia tak berpantai tetapi keindahannya tergantikan oleh keindahan pemandangan gunung-gunungnya, gunung Tampomas-nya, Sungai Cipeles-nya. Tak aku dapatkan semua itu di sini, di Surabaya.
Setelah menambah pesannya tadi, paman tidak menunjukkan tanda-tanda akan berbicara lagi. Raut mukanya terlihat murung seperti menggambarkan penyesalan luar biasa dalam hatinya. Ada apa dengannya? Lalu mengapa selama bicara denganku beliau tak menyinggung Teh Tarmi, anak perempuannya satu-satunya itu? Ada apa dengan dia, ada apa dengan paman? Apa sebetulnya yang telah terjadi di Sumedang selama tujuh tahun terakhir? Aku bertanya-tanya dalam hati. Ingin rasanya langsung kutanyakan semua itu pada paman. Tapi, tak berani hati ini mengusik ketenangan paman. Aku hanya bisa ikut terdiam, melempar pandangan ke laut luas ciptaan Yang Maha Kuasa.
“Andi, menurut pendapatmu, bagaimaakah seharusnya kita mencintai seseorang?”, ia mulai bersuara memecah keheningan yang beberapa saat menyelimuti kami berdua.
“Maksud Paman?”, aku tak juga mengerti.
“Apakah kau akan memberikan segalanya pada orang yang kau cintai, dalam hal ini pasanganmu?”, tambahnya.
“Itu sudah pasti, Paman!”, jawabku polos.
“Termasuk mengorbankan agama dan keyakinanmu serta orang tuamu?”, bombardirnya.
“Paman ini bicara apa toh? Mengapa Paman berbicara begitu? Tentu saja aku tak akan mencintai orang dengan sehina itu Paman. Walaupun aku tak seprotektif Kak Afifah soal pacaran, tapi aku selalu menjaga cintaku dalam koridor-koridor agama, Paman. Boleh saja aku suka padanya, tapi kalau tak sekeyakinan, no way!
“Begitu ya?! Baguslah kalau kau punya prinsip seperti itu”, reaksinya polos. Lalu ia diam kembali. Aku merasakan ada yang aneh dengan paman. Ia tak seperti pamanku yang dulu, paman yang selalu ceria dan banyak memberikan cerita jenaka dengan menyelipkan amanat-amanat yang bermanfaat bagi kehidupan. Tapi mengapa sekarang justeru paman begitu lemah. Mengapa ia sekarang seperti banyak kehilangan kata-kata, cerita, dan pengalaman-pengalaman hidup? Aku menangkap gelagat buruk. Paman? Teh Tarmi?
**
Pertemuanku dengan paman Warta tak lama karena keesokan harinya ia harus sudah pulang. Namun begitu, dengan waktu yang amat singkat itu sudah banyak kudapatkan lagi bekal hidup darinya dan akan selalu kujaga dan kuamalkan. Tetapi satu hal yang mengganjal hatiku adalah ada apa dengan paman? Apakah ini faktor usia? Apakah karena ia tak muda lagi lalu ia menjadi pendiam dan suka melamun?
Pagi-pagi sekali, kuantar paman ke stasiun. Aku yang duduk di belakang stir mobil, sedangkan ayah duduk di sampingku. Paman sendiri duduk di kursi belakang. Rencana kami adalah mengantar dulu ayah ke kantor lalu aku sendiri yang akan mengantar paman ke stasiun.
Ayah sudah turun di depan gerbang kantornya, bangunan berlantai dua yang sekomplek dengan gedung pemerintahan lainnya. Beliau memberikan sebuah amplop pada Paman Warta seraya berkata” Ini, Kang, untuk bekal di perjalanan. Maaf, ini bahkan tak dapat mengganti ongkos Akang pulang pergi kesini. Kami tak banyak memberikan oleh-oleh dari sini karena takut akang repot kalau harus membawanya dari sini. Nanti saja setelah di Bandung, tolong belikan oleh-oleh untuk sanak saudara di kampung!”
“Terima kasih, Man! Kapan kiranya kau akan pulang kampung?”
“Insya Allah lebaran tahun ini, Kang. Saya juga sudah kangen sama kampung. Lagi pula kan kita sudah sepakat untuk menyelesaikan masalah itu lebaran nanti”, jawab ayah.
“Baiklah kalau begitu, Man. Akang pulang sekarang, takut keburu siang. Assalamu’alaikum….”.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh……. Hati-hati di jalan, Kang. Salam buat semuanya orang Sumedang”
“Iya”.
Kaca mobil aku tutup, tapi tak semuanya. Kubiarkan terbuka setengah takut paman merasa pengap.
Mobil mulai melaju.
Kini ganjalan dalam hati ini semakin meruncing. Permasalahan? Permasalahan apa yang mereka maksud? Di selesaikan lebaran nanti? Apa? Mengapa harus lebaran nanti? Mengapa tak diselesaikan sekarang saja? Mengapa aku tak diberi tahu? Ada apa semua ini?
Agaknya permaslahan itu begitu penting hingga paman memaksakan datang ke sini menemui ayah. Tentu ia meninggalkan sawah dan ternaknya dalam beberapa hari ini. Tapi seberapa runcing pun permasalahan itu mengganjal di hatiku, tak aku beranikan untuk menanyakan pada paman. Aku takut salah berucap.
Paman sudah pergi dengan menggunakan kereta api pemberangkatan kedua jurusan Surabaya-Cirebon-Bandung. Benda panjang dan dapat bergerak itu kan membawa pamanku tersayang kembali ke kampung halamannya. Ia pergi setelah aku mencium tangannya yang kekar itu. Lalu ia mengusap kepalaku seolah aku adalah anaknya sendiri. Aku lihat beberapa mutiara bening muncul dari sudut-sudut matanya. Tapi ia seperti tak mau orang lain mengetagui hal itu, bahkan aku sebagai keponakannya sendiri tidak ia perkenankan untuk mengetahui hal itu.
Kereta mulai melaju. Selamat jalan Paman, kau pergi dengan meninggalkan sejuta tanya, seribu teka-teki.
**

Ramadhan tahun ini sangat aku rasakan sangat berbeda dari tahun-tahun biasanya. Ramadhan tahun ini aku tekadnya untuk membentuk diri lebih baik dari tahun kemarin agar aku mendapat peringkat taqwa seperti apa yang dijanjikanNya. Aku juga mulai bergabung kembali dengan kelompok sini membaca AlQuran pimpinan Ustadz Ahmad Ali. Aku lakukan hal itu sebagai salah satu pengamalan amanat paman tempo hari ketika ia berkunjung kemari, ke Surabaya.
Ramadhan tahun ini juga adalah Ramadhan penuh hikmah dan barokah. Bagaimana tidak, kini ayah dan ibu aku rasakan lebih menyayangi aku jauh lebih baik dari sebelumnya. Setelah kedatangan paman sebulan yang lalu, tepat beberapa hari sebelum Ramadhan tiba, ayah dan ibu menjadi sangat perhatian padaku. Bahkan ku kini menjadi malu sendiri dibuatnya sehingga tanpa sadar hati ini dengan sendirinya merasa ingin selalu berbakti pada orang tuaku. Oleh karenanya mulai awal-awal Ramadhan aku bergabung kembali dengan grup seni mengaji di rumah K.H. Ahmad itu.
Tak terasa sudah sebulan yang lalu aku bertemu dengan paman. Pertemuan yang menyisakan keibaan serta kekhawatiranku pada paman.
Setelah paman pergi waktu itu, aku langsung pulang ke rumah. Hari itu, ibu seperti biasa menggeluti hobinya yaitu menyulam sesuatu dengan tangan-tangan lentiknya yang terampil. Namun ada juga yang tak biasa pagi itu. Beliau menyambutku dengan senyum yang tak biasa, senyum yang aneh untukku sampai dengan usiaku yang belasan ini. Ada semacam perasaan kasih sayang yang teramat besar dalam senyum yang beliau sunggingkan waktu itu.
“Sayang, kamu sudah pulang? Bagaimana pamanmu, sudahkah ia berangkat?”, sapanya lembut. Sapaan yang tak biasa pula kudapatkan. Semua itu membuatku menjadi agak sedikit gugup.
“Su…sudah, Bu. Tadi paman ikut kereta pemberangkatan kedua”, jawabku masih tak percaya dengan apa telah terucap dari bibir ibu.
“Syukurlah, sekarang kamu sarapan ya! Ibu sudah menyiapkan nasi goreng kesukaan kamu”, tambahnya lagi sambil menatapku tak henti dengan tatapan yang masih terlampau aneh hingga saat ini. Tapi tak apa lah memang hal itu yang aku inginkan dari dahulu. Sebelum paman datang, hanya Kak Afifah yang mendapatkan cara pandang seperti itu dari ibu, dan bahkan ayah. Seolah tak ada bagian untukku untuk mendapatkannya waktu itu.
“Iya, Bu, nanti Andi makan. Tapi, Andi mau nanya sesuatu pada ibu. Ee….itu pun kalau ibu tak keberatan sih…”, pintaku ragu.
“Soal apa, Di?”, Ibu balik bertanya.
“Soal…soal….paman, Bu!”, kuberanikan walau amat susah kata itu terucap.
“Paman? Ada apa dengan pamanmu, Di?”
“Paman aneh. Beliau tak seperti dulu, Bu. Kemarin saja ketika aku mengajaknya jalan-jalan, dia lebih banyak melamun. Tutur katanya juga aneh, banyak ngelantur ke hal-hal yang tak biasa ia bahas pada pertemuan kami sebelumnya. Anehnya lagi, Teh Tarmi yang biasanya ia singgung pada setiap pembicaraan kami sebelumnya, kemarin tak ia singgung sedikit pun seolah kebanggaannya pada Teh Tarmi yang pintar dan shalihah itu sudah pupus sekarang. Apa ini hanya perasaan Andi saja ya Bu?”, jelasku panjang lebar seraya meminta pendapat ibu.
Ibu menggapai kedua tanganku dan meremas jari-jarinya dengan lembut. Hatiku hancur mendapat perlakuan begitu penuh kasih dari ibu. Ada dua sungai kecil yang mengalir di kedua pipinya.
Beliau menghela nafas berat, seolah bersiap menerangkan apa yang sebenarnya terjadi.
“Tarmi adalah anak perempuan kesayangan dan kebanggan bapaknya. Dia dididik sendirian oleh Pamanmu sepeninggal bibimu setelah melahirkan dia. Paman mendidik Tarmi dengan segenap kasih sayangnya. Di tengah kesibukannnya beternak dan bertani, ia selalu memperhatikan pendidikan anaknya, baik yang berhubungan dengan ilmu dunia maupun akhirat. Tarmi disekolahkan ke Madrasah Ibtidaiyah dan juga disekolahkan mengaji di sebuah tempat pengajian yang biayanya terbilang mahal tetapi memang berkualitas. Walaupun bukan pondok pesantren tapi kualitasnya dapat menjadi kenaggaan. Seperti yang kamu tahu, Di, dia pintar sekali mengaji. Dia juga berkerudung lebar seperti kakakmu, Afifah….”, Ibu berhenti sampai di situ. Ada semacam kenyerian dan ketidaksanggupan untuk melanjutkan ceritanya itu. Air matanya yang semakin deras membasahi kerudung lebarnya.
Aku duduk menatap ibu sangat menangis tersedu seperti itu. Ada kenyerian yang ikut aku rasakan jika melihat ibu menangis sedu sedan begitu.
Ibu menghela nafas panjang lagi, ”Tarmi seumuran dengan kakakmu. Seharusnya ia kuliah semester tujuh sekarang ini. Tapi…..”, kata-kata ibu kembali tertahan, “ia memalukan”.
Aku tak mengerti dengan apa yang ibu ucapkan.
“Maksud ibu, dia tidak lulus kuliah, atau di drop out begitu, Bu?”, tanyaku seraya menebak-nebak.
“Ia memalukan….. ia kuliah di salah satu universitas ternama di Jakarta. Pamanmu membanting tulang, bahkan sampai banyak berhutang kesana-kemari demi untuk bisa menyekolahkannya ke perguruan tinggi favorit tersebut. Tahun pertama berlangsung lancar, bahkan sangat membanggakan. Hampir semua nilai mata kuliahnya mendapat nilai A. Pamanmu amat bangga dengan hal itu”.
“Lho, aku masih belum mengerti, Bu. Lalu apa masalahnya, bukankah hal itu bukan masalah? Hal itu sepatutnya kita syukuri, bukan?”, aku keheranan.
“Masalahnya adalah ketika menginjak semester tiga ia mengenal seseorang bernama Antonius”, sambung Ibu.
“Antonius? Siapa dia, Bu?”
“Teman sekampusnya Tarmi, mahasiswa fakultas kedokteran, katanya”, jelas ibu.
“Lalu?”
Ibu belum melanjutkan. Ada ganjalan yang sangat besar di hatinya untuk mengatakannya padaku. Apakah ganjalan itu begitu besarnya hingga ibu begitu sulit untuk mengatakannya padaku?
Ibu masih diam. Aku menatap wajahnya dan merasakan sekali betapa aku sangat mencintaimu ibu. Aku mencintaimu, sungguh….
“Mereka pacaran sampai Tarmi hamil!”, jelas ibu setengah tak sadar.
“ Masya Allah…. Teh Tarmi?! Tak mungkin! Tak mungkin ia berlaku sejahat itu pada paman. Tak mungkin akhlaknya seburuk itu. Itu pasti salah, Bu!”, kecamku tak percaya seraya terperanjat kaget.
“Itu benar, Nak. Sekarang mereka berumah tangga. Tapi tidak secara Islam.”
“Maksud Ibu?”
“Antonius bukan orang Islam, Di. Dia misionaris! Dia bukan mahasiswa di fakultas kedokteran melainkan mahasiswa salah satu universitas teokrasi di Jakarta”.
“Astagfirullahal adzim….. Lalu apakah paman tetap menerima mereka?”
“Itulah, Di. Mana mungkin pamanmu dapat menerima mereka setelah mereka mencoreng mukanya dengan aib yang besar itu. belum lagi agama yang dianut oleh Antonius bukanlah Islam seperti kita”.
Sungguh berita ini bagai petir yang menyambar di tengah hari bolong. Aku tak mempercayai perempuan sepintar dan seshalihah Teh Tarmi bisa terperangkap oleh jebakan misionaris seperti Antonius brengsek itu. Kumengerti mengapa paman menyinggung mengenai pacaran berbeda agama. Ternyata ia amat terpukul dengan kelakuan anaknya yang begitu rupa. Mungkin ia tak ingin aku mengalami hal serupa. Paman, oh paman, malang benar nasibmu.
***

Cerpen : Antara Aku, Murni dan Ratna (AAMR)

Asep Cahyana

Aku masih termenung di kursi ruang tamu. Kejadian yang aku alami beberapa hari ini membuatku menjadi seorang penghianat dan pembohong kelas kakap. Ya, aku sungguh bukan laki-laki yang bijak dan baik. Aku telah ingkar pada banyak orang, pada banyak wanita tepatnya. Ah, harus bagaimana aku kini dalam menghadapi itu semua? Itu bukan keinginanku. Semua aku lakukan adalah untuk menyelamatkan kepentingan yang lebih besar.
Semua berawal beberapa malam yang lalu, tepatnya sabtu malam. Seseorang mengirim pesan lewat telefon genggamku. Ternyata dia Ratna. Isinya mengatakan bahwa dia ingin mengajak aku untuk berlari pagi bersama. Aku tak kuasa menolaknya karena selain aku sendiri suka jogging, dia adalah teman sekelasku di tempat aku kuliah. Aku menerima ajakannya, dan berharap bahwa besoknya aku tak akan kesiangan dan mengecewakan dia. Kasihan sekali jika ia kukecewakan.
Ratna, gadis yang cukup menarik. Rambut lurus sebahu, kulit putih bersih, wajah merona bersinar, menggoda setiap laki-laki yang memandangnya. Sungguh akan beruntung sekali laki-laki yang memilikinya kelak. Mungkin si laki-laki itu akan menjadi laki-laki yang sangat beruntung karena mendapatkan istri macam dia.
Bagaimana denganku, apakah aku suka padanya? Aku lelaki, tentu aku ada sedikit perasaan di sebagian ruang hatiku pada wanita secantik ia. Tapi kurasa itu hanya nafsu. Mungkin itu bukan yang dinamakan cinta, itu hanya gairah emosi dan syahwat yang datang karena dia adalah wanita yang sungguh manis. Namun, hatiku, walaupun juga masih samar-samar tengah memendam perhatian pada sesosok wanita berkerudung. Dialah Murni, adik kelasku. Aku memang tak mungkin berani menungkapkannya karena selain ia begitu cantik, ia adalah wanita muslimah yang sangat berhati-hati dan memegang teguh ajaran agama. Aku yakin, dia nggak pernah kenal sama yang namanya pacaran. Aku memang pernah sedikit dekat dengan dia karena kami memiliki hobi yang sama, yaitu menulis. Yang kukenal, dia amat luar biasa. Ibadahnya tingkat tinggi, baca Qur'annya luar biasa indahnya. Akan beruntunglah laki-laki yang menjadi suaminya. Namun sayang, laki-laki itu tak mungkin aku. Mengapa? Karena ku tahu, aku bukan pria handal yang bisa mengimaminya dengan baik dalam mengendalikan biduk rumah tangga. setidaknya yang menjadi suaminya adalah seorang ustadz, yang mengerti betul memimpin anak dan istri sesuai kehendak Rasul dan bukan aku, seorang pengecut yang sekaligus orang awam yang tak tahu menahu bahkan gelap sekali terhadap ilmu agama. Begitulah kira-kira yang ada dalam hatiku, saat aku memutuskan untuk menjauhinya karena kesadaran akan ketidakmampuanku itu.
Pagi sudah tiba. Setelah kuambil air wudhu dan melaksanakan shalat subuh, segera aku bersiap. Kukenakan celana training berwarna putih, baju kaos dan dilapisi jaket kesayanganku. Kukenakan juga sepatu olahraga satu-satunya yang aku punya itu. Dan aku berfikir sejenak mengingat-ingat sekiranya apa yang belum aku pakai dan kubawa.
Aku berbalik ke kamar tidurku. Kuambil beberapa lembar uang kertas lima ribuan di atas meja. Takut pulangnnya harus naik angkot, akan malu sekali jika aku harus diongkosi oleh Ratna. Belum lagi kalau dia mengajakku makan bubur ayam setelah lari-lari, tentu aku yang harus membayarnya. Memang bukan suatu kewajiban buat aku untuk membayarnya. Apalagi dia yang mengajak aku, bukan sebaliknya. Tapi setidaknya, laki-lakilah yang mentraktir wanita dan itu sudah jadi kebiasaan.
Telepon genggam di saku jaketku bergetar lagi, pertanda sebuah pesan singkat masuk ke dalamnya. Kubuka dengan sangat hati-hati. Ternyata Ratna mengabarkan bahwa ia tengah bersiap-siap, sedang memakai sepatu tepatnya. Kami berjanji untuk bertemu di depan sebuah mini market, di perempatan jalan agar sama jaraknya dari rumah-masing masing. Aku segera berangkat karena sudah tak ada yang ketinggalan lagi.
Sudah sekitar sepuluh menit kami berlari-lari kecil di sepanjang jalan kota itu, menuju ke taman kota, tempat dimana setiap hari minggu pagi orang-orang berkumpul dan melakukan berbagai macam kegiatan olahraga. Ada yang melakukan SKJ, yang kebanyakan pesertanya ibu-ibu, ada juga yang bermain bola voli, bermain futsal, badminton, dan berbagai macam olahraga lainnya.
"Gus, kamu nggak terpaksa kan lari bareng sama aku?", Ratna memulai pembicaraan.
Aku menjawab dengan tenang, "mengapa aku harus terpaksa. Aku senang berlari, kok. kan berlari bikin kita sehat. Kalaupun tidak kamu ajak, aku suka berlari sendiri, hampir setiap hari". Aku agak berbohong. Padahal aku berlari paling seminggu sekali. Memang begitulah lelaki, di depan wanita cantik senang sekali berdusta untuk menutupi kekurangan.
"Oh, bagus lah kalau begitu. Eh, kamu masih ingat nggak sama Desi?", Tanya Ratna lagi.
"Desi? Yang dulu pernah kuliah sama kita bukan?"
"Ya, Desi yang itu. Kamu ingat bukan?"
"Kalau yang itu sih aku ingat, hanya saja aku tak tahu sekarang dia dimana. Terakhir aku ingat dia datang ke kampus di semester dua. Tapi kesininya nggak tahu kemana. Kamu tahu dia kemana?"
"Dia udah nikah".
"Apa? Nikah…. Ah, aku nggak percaya. Dia kan masih muda sekali", aku agak kaget.
"Ya, dia nikah karena dijodohkan sama ortunya".
"Oh, begitu ya. Kasihan banget ya. Tapi, nggak apa-apa sih, kalau memamg sudah siap, buat apalagi dilama-lamain. Hanya saja aku kasian kalau masih muda terus dia hamil dan melahirkan, bisa premature, kan? Aku dengar dari bibiku yang seorang bidan itu, katanya hamil muda itu berbahaya dan besar sekali resikonya bagi kesehatan dan keselamatan bayi dan ibunya".
"Kamu hafal banget soal begituan. Jangan-jangan kamu mau buru-buru married juga ya?"
"Ya, enggak lah, pacar juga aku belum punya…."
"Tapi bagus sih, Gus. Kamu bisa jadi ayah yang amat perhatian sama istri dan anaknya. Aku juga mau punya suami yang punya fikiran sama kayak kamu begitu, perhatian sama masalah cewek", pujinya. Hal itu membuat hidungku kembang kempis dan hendak terbang ke angkasa.
"Tapi, Gus", tambahnya, "apa kamu tahu kalau Desi itu…".
"Desi kenapa, Na?"
"Eeee, maaf ya, dulu Desi katanya suka sama kamu".
"Apa?!! Kamu jangan bercanda begitu ah, nggak lucu tau!"
"Bener. Dan sekarang dia lagi hamil".
"Terus apa hubungannya? Kamu enggak lagi nuduh dia hamil sama aku kan? Ya wajar lah dia hamil orang dia udah punya suami!!!", aku agak tersinggung.
"Tenang dulu. Bukan begitu maksudku. Dia lagi hamil, dan dia sekarang ngidam tapi ada hubungannya sama kamu…."
"Emang ngidam apaan? Aku kan nggak jualan rujak".
"Tapi kamu nggak bakalan marah kan kalau aku bilang?"
"Ya, deh, tapi apa?"
"Dia pengen aku ngelempar kamu pake sepatu".
"Apa?!! Wah, benar-benar ibu hamil yang aneh. Kok ngidam pengen ngelempar orang sih…"
"Mau apa enggak? Sebetulnya aku juga ragu bilang sama kamu, takut kamunya marah. Tapi sudah beberapa hari ini dia nanyain terus apakah aku sudah melempar kamu pake sepatu apa belum. Malah dia pengennya pas aku mengempar kamu harus di-shooting karena dia takut aku bohong".
"Ya udah lah, laksanain saja. Kasian kan bayinya? Aku sih, nggak apa-apa. Cuma dilempar pakai sepatu doang. Kalau dilempar dengan granat, baru aku protes".
"Makasih, ya".
"Iya, nggak apa-apa".
"Eh, iya, Gus. Pacar kamu nggak marah aku ngajak kamu jalan begini?"
"Aku kan sudah bilang, aku nggak pacaran. Sejak aku diputusin sama cewek aku dua tahun kebelakang, aku tobat, nggak mau pacaran lagi".
"Tapi, aku dengar kamu deketin Murni, anak semester tiga itu".
"Murni, yang mana?"
"Ah, jangan pura-pura begitu. Itu, Murni yang berkerudung lebar itu. Kamu suka sama dia, kan?"
"Oh, Murni. Aku memang dekat sama dia, tapi itu dulu, ketika dia semester satu. Kebetulan aku kenal saat dia ospek dan aku kakak pembimbingnya. Selain itu kami punya hobi yang sama yaitu menulis. Tapi, sejak aku off dari Pers Kampus, aku nggak deket lagi sama dia. Lagi pula wanita muslimah kayak dia nggak mungkin mau pacaran, dia sangat taat pada aturan agama".
"Oh, begitu ya?! Kayaknya kamu kagum banget sama dia, ya?!"
"Ah, enggak juga…", aku menghindar. Padahal dalam hatiku aku sangat mengagumi Murni sepenuh hati. Hanya saja aku sadar, Murni denganku seperti bumi dan langit. Dia sungguh cantik dan shalihah, sedangkan aku apa…
"Aku juga dulu punya pacar, dulu banget ketika jamannya aku SMA!"
"Terus?"
"Bukan pacar sih, tapi kami saling suka. Kami sama-sama sayang satu sama lain tapi nggak ada yang berani jujur so kami nggak pernah jadian. Sampai akhirnya….".
"Sampai akhirnya apa? Kamu jadian dong sama dia?"
"Sampai akhirnya dia meninggal….", lanjutnya dengan mata nanar. Terlihat ada bening yang mengggantung di sudut-sudut matanya.
"Oh, maaf, aku nggak bermaksud untuk…"
"Nggak apa-apa, aku juga sudah menerimanya. Cuma aku nggak bisa maafin diriku sendiri karena dari mulai ia sakit sampai meninggalnya, aku nggak tahu dan nggak ada yang ngasih tahu. Aku baru tahu seminggu setelah kematiannya. Setelah itu aku stress berat. Aku sampai nggak masuk sekolah hampir tiga bulan. Aku selalu mengurung diri di kamar. Aku menyesal sekali waktu itu. Tapi waktu itu kupikir aku harus tabah menghadapi itu semua".
Aku menahan diri untuk tidak meneteskan air mata. Sungguh perih kisah hidupnya itu. Tentu dia sangat tersiksa. Aku bertekad dalam hati untuk membantunya melepaskan diri dari kepedihan pengalamannya itu. Namun, aku tak tahu harus berbicara apa untuk menenangkannya. Tapi akhirnya terucap juga sepatah kata buah hasil dari fikiranku untuk mengolahnnya selama beberapa menit.
"Aku yakin, itu yang terbaik buat kamu, Na. Mungkin Allah punya yang lebih baik buat kamu".
"Ya, mudah-mudah saja begitu…".
Ternyata semua itu berlanjut. Mulai saat itu ia selalu menghubungi aku melalui telepon, entah itu menelfon ataupun mengirim pesan singkat. Pesan-pesannya kurasakan ada yang asing dan mencurigakan. Aku jadi agak ribet dan kurang suka dengan isinya. Pagi dia meng-SMS, begitu juga siang, begitu pula malam. Padahal isinya hanya menanyakan kabar saja. Sungguh keterlaluan, ucapku dalam hati.
Tapi aku ingat akan ceritanya dan aku telah berjanji untuk menjadikan hari-harinya yang penuh penderitaan lebih ceria. Maka, aku layani ia. Walaupun aku sedang bekerja ataupun sedang mengerjakan sesuatu, kusempatkan untuk membalas semua pesan-pesannya walau agak aneh dan kurang berkenan di hatiku.
Namun suatu malam aku merasakan kejanggalan kata-kata di pesannya semakin menjadi. Dia mengatakan bahwa ia telah melaksanakan shalat istikharah dan mendapati petunjuk bahwa jodohnya dalah seseorang. Seseorang itu menunjuk kepadaku. Aku memang shock berat dibuatnya. Tapi aku harus mengambil suatu keputusan.
Ia menanyakan kepadaku atas kesedianku untuk menerimanya menjadi kekasihku atau tidak. Aku termenung beberapa saat memikirkan hal itu. Ah, amat berat keputusan yang harus aku ambil itu.
Terlihat di mataku sosok Murni yang menjadi dambaan hatiku. Apakah aku tidak berdosa mengabaikan kata hatiku bahwa aku mencintai Murni dan malah menerima cintanya Ratna?
Tapi, aku juga tak mungkin menolak Ratna mentah-mentah. Ia baru saja sembuh dari lukanya. Ia baru saja menemukan kembali kehidupannya. Ia baru saja bangkit dari keterpurukannya setelah ditinggalkan orang yang dikasihinya itu. Sangat berbahaya jika aku lakukan suatu penolakan padanya. Akan sangat berdosanya aku jika dia sampai mengalami hal yang sama seperti ketika seseorang yang dicintainya itu meninggalkan dia untuk selamanya. Apa yang harus aku lakukan?
Otakku berputar kala itu. Mencari berbagai macam ide yang sekiranya dapat menyelesaikan kedua masalah itu tanpa merugikan aku maupun dia. Akhirnya kudapatkan sebuah ide yang kupikir paling bagus.
Aku beralasan bahwa aku belum bisa pacaran samapai aku lulus S2. aku mengatakan bahwa semua itu adalah kehendak dari orang tuaku. Dia mengerti, bahkan mengatakan bahwa apa yang orang tua katakan mesti dituruti karena itu tandanya kita patuh pada mereka.
Aku merasa lega kala itu. Aku berharap dia akan menyerah untuk menjadikanku kekasihnya dan berpaling ke hati yang lain. Namun aku salah. Alih-alih berkata bahwa ia akan menyerah, malah ia mengatakan bahwa sampai kapan pun ia akan bersedia menunggu aku karena hanya akulah yang ia sayangi dan ia berdalih bahwa ia telah mendapatkan ilham dari Tuhan bahwa akulah jodohnya.
Aku menjadi lebih bingung dibuatnya. Alasan yang tadinya aku harapkan akan sangat efektif, ternyata meleset. Malah menjerumuskan aku ke hal yang lebih rumit.
Lalu bagaimanakah aku harus berlaku adil. Aku mencintai Murni walaupun aku tak berani mengatakan kebenarannya. Aku pun tak berani menerima Ratna karena aku tak mencintainya. Aku menjadi pusing dibuatnya.
Hari ini, aku duduk di kursi ini, membuat sebuah cerita tentang aku, Ratna, dan Murni. Aku dan Murni pernah dekat karena kami sama-sama suka menulis. Kini aku telah hasilkan sebuah tulisan. Aku akan berikan tulisan ini padanya supaya dia tahu bagaimana perasaan aku sebenarnya.
Aku pun akan berikan kepada Ratna supaya dia tahu yang sebenarnya bahwa aku bukanlah orang yang pantas dipujanya seperti yang ia pikirkan selama ini. Bahwa aku hanyalah bajingan yang bertopeng pangeran di depannya……

***